Friday, December 18, 2009
Di ambang meragu dan khayal
Dirimu merayu serpihan bual
Karat-karat tak berbelas
Ujung tombak yang mapan
Menghunus keabadian seratus alangkah indahnya
Pada bintang
Pada keluguan
Pada jari-jemarimu yang kubelai halus
Pada awan yang mulai kelam
Pada bumi yang mulai menghitam
Ada kah kau tau?
Ada kah kau malu?
Akan sendu yang mulai tersipu?
Nampak tak berujar bulan di sana
Nampak tak terpenggal seperti bangkai jenar
Seperti nyenyanyian casabalancas
Seperti nafas anak jadah yang kau peras
Serupa hembusan nafasmu di kupingku
Juga irisanku di papua yang ditembus peluru
Yang malam, yang sendu
Yang hujan, yang bisu
Semua memberhalai diri dihadapku
Dihadap setangkai akar yang patah
Dahaga gulita yang resah dan gelisah
Tak mau ukir namanya dalam sejarah
Ah, andai saja suara pantai pindah ke kota
Di mana derunya menghambur keramaian
Menyapu bersih bebunyian yang tak ku suka
Di malam itu kita berkehendak bintang
Di malam itu kita berjanji bulan
Di malam itu kita berserapah akar
Di malam itu kita genggam belukar
Belum usai
Tentu saja!
Posted at 01:13 am by nyikonde
Permalink
Tuesday, December 08, 2009
Jika saja aku hembuskan angin terakhir
Aku takkan sudi berharap
Hingga detik-detik itu singgah dirasa
Harmoni yang menyapa
Oh, ya, aku titip lagi satu ungkap pada pantai
Ketika aku bertengger di pohon tua dan lupa
Ketika sahabatku menangis di hutan itu
Juga aku menangis melihat titik putih pada langit malam
Entah apa mabuk terakhir yang ku rasa
Entah apa rasa yang aku rasa pada masa bertapa
Hanya mau pelukmu
Hanya mau kecupmu
Hanya mau senyummu
Walau mata tak lihat
Ada hati yang awas
Sahabat, aku sedang lelah pada tapak jalan
Sahabat, aku sedang duka pada diriku
Sahabat, malahan aku tak lagi suka pada cermin
Sahabat, biarkan aku khatamkan tentang semesta
Hingga aku teramat gila, hingga aku terbujur kaku
Apapun kini aku bakar
Biar aku dikurung
Biar aku terbunuh
Karena kelakuanku
Pada dunia
Pada setetes sentimentalku
Pada beribu lapar yang aku simpan
Pada sejuta alam yang mulai dirajah industri
Tak bisa lagi 'ku tahan
Ini semua hanya lelucon
Hidup memang lelucon
Hingga sahabatku yang lain,
Mulai bertanya "Apa aku masih hidup?"
Sudahlah aku muak pada hidup
Mari ikut aku!
Kita tantang semesta...
Posted at 11:07 pm by nyikonde
Permalink
Monday, November 30, 2009
Buat hujan sampaikan salamku pada mendung yang merenung
Menatap kisah antara selimut rindu dan sebongkah kuarsa
Rayu yang terkristalisasi silika trigonal tanpa struktur heksagonal
Tak 'ku buyar dihadap langit yang memberiku secangkir harap
Tak 'ku bungkam dihadap molekul dan partikel hidup
Biar, biar saja, aku hanya ingin berteman api, menyendiri
Runutan opus dan nyenyanyian yang parau
Memutar waktu dengan gundah tanpa gulana
Menyisa ruang seperti angin ringkih
Mematisurikan mata dan jelaga, bual juga dupa
moralis sampah
spiritual religius yang tak pernah bebenah
merusak henti debar jantung dan mata
diam
diam
'kuracun hingga padam
bungkam
bungkam
'kusayat hingga terpejam
Hujan, opus, embun dan juga akar
Jangan lupa pesanku pada sang mendung
Aku masih di sini terbang dan terbakar mentari
Juga ditampar semesta dan diludahi para dewa
CARPE DIEM...
Posted at 01:37 am by nyikonde
Permalink
Tuesday, November 17, 2009
Jika jingga terlalu nestapa aku sapa
Lalu bagaimana dengan mentari siang ini
Apa kabar dengan lalu lalang yang berkendara
Juga irisan hati yang lama tak 'ku buka
Jika embun enggan lagi 'ku sentuh
Bagaimana dengan duri, bagaimana kalau dicuri
Jika peluk enggan lagi kau bagi, bagaimana kalau kucuri
Jika kecup tak lagi merayu, bagaimana jika berlalu
Ayolah hujan, bisikkan derasmu pada segenggam pukul
Mari 'kutinju selangkangan yang menganggur
Biar lebam, dalam dan muram
Ayolah hujan bisikkan gerimismu pada batu yang rapuh
Mari 'kuiris nadi dan leher yang mulus
Biar mengalir merah, darah dan jengah
Kutitip satu pisau berkilau
Buatmu agar dirimu tak jadi tuhan yang digagahi para perkasa
yang diciumi makhluk berduri, yang dihujani ludah dari peluit polisi...
Posted at 11:20 pm by nyikonde
Permalink
Sunday, November 01, 2009
Yang berikut aku siulkan
Indah sesiulan racau manusia mabuk
Nina bobo untuk mengamuk
Yang berikut aku bakarkan
Api dalam lidah-lidah amoral
Nestapa yang semakin bebal
Gurat pekat kebersatuan
Posted at 02:14 am by nyikonde
Permalink