|
|
 |
 |
|
Tuesday, July 28, 2009
Geliat tubuh di ranjang itu sungguh menggoda, bentuk tubuhnya yang proporsional dengan wangi yang menjalar merangsang tubuhku untuk sebentar merinding, membawaku dalam pelukan ekstase yang pada waktu-waktu itu aku belum sadar akan hal itu. Matanya terus kupandangi dengan mesra, sambil sesekali menciumnya tipis dan kubisikkan kata mesara disamping kupingnya. Momen itu yang menghantarku pada bulatan gempal yang indah dan aku sendiri teramat bingung untuk melukiskannya, mungkin momen pertama kali aku melihatnya, dan entah mengapa, aku sungguh merasa biasa saja ketika memandanginya tak terlalu indah seperti momen ketika kami berdua membisu dan saling mengarahkan kedua bola mata kami untuk beradu. Jika kurunut pada diriku sendiri, aku masih terlampau normal untuk mencintai perempuan dihadapku, maaf cintaku masih sebatas pada perempuan, aku tak mencinta sesama jenisku.
Aku bahkan masih ingat wewangian tubuh yang kala itu aku hirup ketika perempuanku bertelanjang setengah badan dihadapku, ia menyodorkan tiupan mesra yang menghantarku untuk bersetubuh dan beradu kasih di tempat itu, menjilati daun kupingku dan menciumi kelopak mataku yang terpejam. Semua bahasa tubuhnya menjurus pada satu isyarat, make love. Hmmm, entah kenapa, rasaku kemudian berubah setelah kami mulai memanas dalam pelukan mesra itu, saat-saat itu aku sungguh tak mau bersetubuh lebih lanjut, merasa jikalau perempuanku tersakiti olehku aku sungguh akan merasa sangat bersalah, pikiranku mulai semerawut, hitam, ungu, putih, kuning, jingga sesekali, pudar dan - stop, aku menghentikan kemesraan itu dengan sekali hentak yang membuat kami berdua terbaring dan saling mencuri pandang. Bukan, bukan persoalan dalam perspektif keagamaan, moral atau pun dosa yang sering digembar-gemborkan individu-individu yang religius atau pun moralitas masyarakat umum di indonesia yang terlampau normatif, entah dari mana datangnya perasaan bersalah yang meliputiku berulang-kali jika saja aku bersetubuh lebih lanjut dengan perempuan dihadapku itu, aku merasa dirinya akan kusakiti, dan aku yakin aku tak mau melakukannya - terhadap perempuanku. Aku perlahan menatap wajahnya yang kecewa, dan aku pun kecewa karena mungkin bisa saja telah aku lukai sucinya persetubuhan itu, pun dengan perasaan perempuanku saat itu, saat di mana semestinya aku mengalami ekstase seperti dalam kisah-kisah sufi.
Hari itu aku bernafas dengan berat, tak lagi melakukan senda gurau dengan beberapa temanku di tempat itu setelah pagi yang membisu. Walau pun perempuanku seringkali menyunggingkan senyum untukku, tapi aku tak habis pikir, mengapa aku menolak melakukan hal itu dan tetap saja aku menatapnya datar. Waktu demi waktu aku pun dirayu oleh perempuanku untuk melakukannya kembali, dan lagi-lagi aku mematahkan momen sempurna itu dengan kebisuan mentah di malam di mana bulan sempurna, dan kelelawar berkelebatan - momen tak beralasan, dan aku tau ini omong-kosong, dan aku berusaha menjelaskan dengan penuh kikuk, ia hanya tersenyum memelukku dan menciumku hangat - pulang. Aku menyadari sepanjang perjalan pulangku ke rumah, poinnya adalah aku sungguh merasa momen ini dilematik, di satu sisi, aku tak ingin mengecewakannya, tapi di lain sisi aku tak bisa membohongi diriku bahwa aku tak ingin bercinta dengannya gara-gara pikiranku yang kacau, ya seperti beberapa orang bilang bahwa hidup adalah pilihan, memang aku telah memilih hari itu, walau konsekwensinya adalah cintaku akan kandas dalam kemungkinan, tapi aku harus memilih, dan pilihanku adalah tidak, sampai suatu hari aku berkata ya untuk bercinta dalam perspektif seks yang tak lagi aku rasionalisasikan.
1 minggu kemudian, aku sungguh tersentak saat perempuanku mengakhiri hubungan kami. Jelasnya aku pun tak tau jelas, tiba-tiba saja ia memarahiku dengan alasan yang sepele, yang aku pikir suatu alasan yang bodoh dan terlalu dibuat-buat. Aku tak bisa berpikir seperti sekarang ini, yang aku sadari bahwa momen di mana ia mematahkan cinta kami berdua adalah suatu fenomena kewajaran, sewajar penolakanku bercinta di pagi buta lalu.
-------------
4 tahun adalah waktu yang cukup untuk membuatku melupa perempuanku tadi - Cherry. Dia entah di mana dan aku berlain tempat dengannya, berlain sikap, berlain cerita hidup yang menghiasi masing-masing jalan cerita dalam perhelaan manusia di bumi, saling mengisi lembaran buku masing-masing tanpa ada hiasan kisah untuk digabung seperti metafora-metafora indah dalam personifikasi benda nan misterius dalam puisi.
Beberapa bulan ke belakang, Cherry mengirimiku nomer telepon seluler melalui internet, ia meminta aku menyimpannya dengan alasan beberapa keperluan cerita yang ingin ia utarakan. Hmmm, aku tak menanggapinya serius setelah beberapa saat kebelakang ia seringkali menghubungiku dan tiba-tiba menghilang. Tapi, kali ini lain, ia beberapa kali menghubungiku baik lewat surat elektrik melalui ponselnya maupun meneleponku untuk sekadar menyapa dan bertukar kabar secara singkat. Entah kenapa, ia begitu mesra, begitu hangat dalam beberapa percakapan kami terakhir lewat ponsel, seperti mengingatkan dan menghantarku pada saat-saat dulu kami berpadu kasih di jalan suci, well memang tak sesuci agama bilang, tapi menurutku cinta itu suci, sesuci spiritualitas tanpa agama dan sesuci tuhan tanpa perantara agama. Apa aku masih menyimpan rasa untuknya, untuk Cherry yang dulu aku bagi lembar hidupku dengannya? jawabnya sungguh aku tak tau, tapi ya, kemungkinan memang bisa terjadi dan aku tak menaruh peduliku akan hal ini, lagipula kali ini aku sedang menjalani relasi dengan seseorang.
---------------
Ponselku berbunyi ketika aku sedang berada di kawasan dipatiukur, aku bergegas mengangkatnya. Ternyata itu Cherry, dia memintaku menghampirinya di salah satu konser musik pop malam itu. Akhirnya aku bergegas menghampirinya, dan kami bertemu, saling beradu pandang dan melepas peluk mesra dihadapan temanku dan temannya, aku tak ambil pusing apakah temannya itu adalah mungkin kekasihnya atau bukan, yang jelas kami tau kami saling merindu untuk berpelukan saat itu. Bercakap beberapa saat dan kemudian dia mulai mengenalkan seorang laki-laki di sampingnya, ternyata itu memang kekasihnya. Aku tak begitu memedulikan akan hal itu dan tak merasa cemburu sedikit pun lagipula buat apa aku menaruh rasa cemburu, yang jelas aku memang ingin berbincang dengannya. Tak banyak yang berubah dari dirinya, dia masih periang, stylish dan selalu tersenyum. Kami semua, aku, dirinya, kekasihnya dan satu temanku memutuskan untuk melihat pertunjukan musik pop malam itu. Aku dan Cherry berpisah tempat duduk dan hanya berpandang sesaat lalu tersenyum. Tak lama aku memutuskan untuk keluar gedung tempat pertunjukan itu diadakan, lalu mengirim surat elektrik pada Cherry bahwa aku tak bisa berlama-lama di tempat itu, selain tempatnya crowded dan lagipula aku sudah ada janji dengan beberapa temanku untuk menenggak alkohol malam itu - berbagi kisah di malam-malam, makan daging hasil buruan dan minum anggur dari Dionysus seperti orang-orang tribal.
Beberapa hari kemudian, aku bertemu lagi dengannya, tapi kali ini aku hanya bertemu dan bercakap lewat dunia maya. Dia bercerita bahwa dirinya kini berada di Bali, hufff, nikmatnya berada di Bali, mengingat kegiatanku di hari itu adalah hanya mengerjakan mini-thesisku di depan PC. Rayu-merayu pun menjadi percakapan kami, dan aku tau bahwa dia adalah seorang perempuan dengan skill rayuan yang cukup handal, mulai cerita masa lalu kami dan tiba pada masalah seks. Aku agak mengernyitkan dahiku, aku agak tersentak, akhir-akhir ini seks bercakap tentang seks adalah seperti phobia yang malas aku bincang. Tapi dia terus merayuku untuk menceritakannya dan...
Dia bertanya apakah aku masih tetap tak mau melakukan seks? dan
Cherry:"qta kn dlu pcran anak baek2 gto" Me :"oh ya?" Cherry:"no sex no blowjob just kissing" Cherry:"hahaha" Me :"ga baek2 aja, cuma prinsip aja kan!" Cherry:"hahaha" Cherry:"i miss u baby"
Aku berusaha menjelaskan padanya sebisaku, bahwa aku belum mau melakukan sex karena pikiranku masih kacau. Mungkin pada saatnya nanti jika aku ingin melakukannya aku akan melakukannya. Aku tak mau lagi menahan hal yang natural. Tapi, ya, itu tadi mungkin waktunya saja belum tepat.
Cherry pun kemudian bercerita tentang pengalaman hidupnya di masa lalu dan masa sekarang yang aku sudah ketahui beberapa. Cherry beberapa tahun lalu tinggal di Belanda dan Jerman dan beberapa negara lain. Aku kira itu cuma perjalanan liburan atau bertemu keluarganya di sana. Dugaanku salah, ia ternyata sedang berobat, ia divonis mengidap Borderline Personality Disorder, sebuah penyakit akibat sexual abuse pada masa kanak-kanak. Ia bercerita bahwa butuh 25 tahun untuk meredakan penyakit itu, bila masanya cepat. Hmmmm, ya, Cherry, aku sungguh tidak terlalu kaget mendengarnya, mengingat di masa lalu Cherry sering bertingkah aneh, ia sering seperti kehilangan kontrol pikirannya, dan berganti-ganti kepribadian di hari lain di saat kami bertemu.
Cherry:"so u still virgin?" Me :"yep" Cherry:"ok i know ur feeling" Cherry:"we r not normal person indeed"
Lama kami berbincang, semua perbincangan yang dulu kami saling simpan mungkin kali ini kami luapkan beberapa meski lewat dunia maya yang terbatas ruang geraknya. Aku sungguh tak mengerti perasaanku padanya, tapi aku yakin, bahwa aku memang tak memendam rasa padanya...
Cherry:"gtg ok" Cherry:"speak to y later" Me :"ok" Cherry:"darling" Cherry:"u r the best" Cherry:"muach" Me :"paling bisa deh kamu" Cherry:"still like u" Cherry:"seriously"
Aku tak sering berkabar lagi dengannya setelah percakapan kami yang terakhir itu. Mungkin Cherry sibuk mengurus data dirinya untuk keberangkatan ke Belanda kembali. Aku, aku tetap di sini dengan pikiranku yang kacau dan mulai menata kembali pikiran yang kacau itu untuk menjadi waras dalam seks. Aku tak mau menjadi Sisiphus yang dikutuk Zeus, terus dikutuk dalam perulangan meskipun pada akhirnya Sisiphus menemukan kekuatannya dengan mengerti dan "melebur" menjadi batu lalu kemudian menemukan kekuatan hidupnya untuk membangkang pada Zeus. Hmmm, well, aku siap memelajari seks dan mungkin melakukannya tanpa perlu jalur pernikahan, aku pun masih percaya, seks memang sakral, artinya aku harus mendapatkan rasaku dulu terlebih dahulu untuk melakukannya. Cherry, kekasihku, perempuan di luar sana.... :)
Posted at 08:40 pm by nyikonde
Permalink
Sunday, May 03, 2009
Di batas waktu sepeninggal sang malam Badan yang enggan menapak mapan Juga mata yang kian melebam Mengikuti alur garis wajah yang terdepan
Demikian di ambang dan batas waktu aku menelan saliva Terbata aku bingung tak meruang Ku ikuti kemana cinta berlabuh dan aku desak Semakin aku desak, semakin nihil tak hampa Apa aku sering keterlaluan mendesak cinta? Seperti seseorang yang hendak ditikam di jalan buntu! OH, tidak aku telah menghempas kesenangan Aku telah murka pada jalan ini Jalan yang sedemikian aku iris perlahan seperti nadi
Kini aku tak mau lagi mendesak jalan itu Kini aku tak mau lagi mengejar bualan itu Kini aku tak mau lagi kehausan mapan itu Kini yang aku mau adalah merayu cinta itu Cinta-Senggama-Peluk-Cium
Posted at 08:40 pm by nyikonde
Permalink
Friday, April 10, 2009
Inilah puncaknya mengapa para religius-narsis itu saya benci, mereka pernah berkata padaku :
"....loh mereka kan ladang amalan kita. Kalau gak ada orang2 miskin kayak mereka, kita gak bisa beramal lagi dong"
Dan bila agama hari ini dipenuhi logika semacam ini, maka saya menanggalkan syahadat saya berdasarkan logika itu. Saya kafir. Alhamdulillah.
The Bolang
Posted at 03:56 pm by nyikonde
Permalink
Sunday, April 05, 2009
Asap, aku sungguh suka asap Tersekam asapmu, asapku dalam dahaga Jantung yang menuai harap membangkai Terlunta meminta bagai jemari Sibuk saja di alam sana, aku terlontar Di alam sana juga aku disenggama Maksud jiwa menunjuk itu Tapi jilati sajalah otakku ini Biar, aku tak mau menampar liar Aku hanya ingin menampar mapan
Bagiku sekat itu kini ada lagi Bagiku dinding itu kemudian dibata lagi Bagiku jeruji itu mulai ditancap lagi Bagiku halang itu menjadi hutan ilalang Bagiku awan pun kini meludahiku Bagiku kini tuhan pun mulai mencret di mukaku
Ronta, meronta jadi rontaan sang kotor Jerit....................................................... Ah, tidak juga, terpaku menjadi bisu Bulan bintang matahari, wewangian tubuh Ah, bukan, ah tentu saja bukan Aku hanya tertawa berbinar, menyungging
Iya, aku tau.... tapi bakar sajalah Aku tak perlu lagi, mungkin di kemudian hari Aaaaaaaaah, aku tak peduli...! Sudah mari buang saja di selokan! Lagipula itu hanya kitab suci dan si kecil tuhan Moral, kultur dan kediaman itu? Ya itu juga!
Posted at 09:02 pm by nyikonde
Permalink
Thursday, March 12, 2009
Sore itu aku bergumul dengan kesendirianku menjalani beberapa aktifitas menyebalkan - menelusuri perjalanan skripsi, yang minta ampun muaknya dengan pengerjaan yang satu ini. Itulah, tapi mungkin pada dasarnya aku sendiri terkadang menyadari betapa kapasitas malas yang tertanam di diri ini sungguh mendarah daging. Aku jadi teringat pelajaran sosiologi semasa di SMA dulu, bahwa sesuatu yang mendarah daging cenderung susah untuk dihilangkan.
Ambil contoh pada kasus mayoritas orang di Indonesia yang hyper banget keterlaluannya sampai segala sesuatunya mesti menyabar: "jika aku miskin, maka aku musti bersabar karena segala sesuatunya sudah diatur sama yang di atas, dan asal kita masih bisa makan masih untunglah kita." Fyuuuuh memang, tapi itulah karakter fatalistik yang sudah mendarah daging pada perspektif dan pola pikir mayoritas orang di Indonesia, dan itu juga mungkin kenapa di Indonesia sangat sukar sistem ekonomi yang kapitalistik ini rubuh, bayangkan saja kebanyakan pola pikir yang fatalistik itu terus mengakar, kapan runtuhnya sistem kurang ajar itu?, well tapi semua bisa jadi ada prosesnya, seperti mungkin proses pengalaman cintaku yang akhir-akhir ini aku perluas ruang geraknya, atau mungkin kadang dipersempit...? mmm bingung!
------------------
Senja itu semestinya aku mempersiapkan diri untuk mengonsep kerjaan bersama beberapa kawanku di daerah pajajaran sana. Tapi, ya tapi, ketelatan salah seorang kawan yang membuat segalanya jadi buyar untuk dijalani, ok aku memakluminya. Aku berpikir bahwa waktu pun dirumiti kembali keberadaannya oleh hal semisal teknologi. Betapa tidak, dulu ketika aku belum mengenal apa yang bernama telepon, aku selalu tepat waktu atau setidaknya datang pada perjanjian yang sudah disusun sebelumnya. Karena mungkin, pada saat itu aku tak tau lagi ketika aku hendak membatalkan janji, mau tak mau aku mesti datang terlebih dahulu ke tempat yang sudah ditentukan sebelumnya. Nah, coba kita sanding perbandingannya ketika aku sendiri memunyai barang sialan - hape.
Jika aku ingin membatalkan janji, aku akan sekenanya saja memberi tau bahwa aku tak akan datang melalui ponselku itu, ya buruknya waktunya sudah tak ditentukan lagi, mau pada saat jam ketemuan maupun pada saat genting di saat semua orang berperang cemas menunggu kita... Di sadari atau tidak sedemikian teralienasinya hidup ini dengan hal kecil semacam hape. Coba renungkan berapa juta lagi teknologi yang tidak kalah rumitnya dibanding hape, dan berapa besar juga kemungkinan alienasi yang dialami oleh orang-orang pada kurun waktu kini? Tapi agggghhh anjing hape emang sialan... coba kita bandingkan lagi sodara-sodara, lur-lur, brad-brad....
Bulan-bulan kemarin aku sempat merasa demikian depresinya punya hape ini. Ceritanya bermula ketika aku menjalani hubungan (bukan pacaran tepatnya, sebut saja cintaan, tapi terserah) dengan seseorang. Aku pikir tidak ada lagi yang perlu dimasalahkan pada hubunganku selain prinsip-prinsip personal yang selalu saja bertabrakan dengan cintaku itu. Hingga suatu saat aku berbaring dan'mengada' untuk beberapa saat tentang apa saja yang aku telah jalani dalam beberapa pekan ke belakang... berjam-jam.... Fuck, aku mulai menyadari betapa remuknya hati ini ketika aku merasa bahwa aku mulai terinfeksi alienasi hape sialan itu. Kejadiannya memang terkesan banal, dan terlupakan. Mari kita renungkan bersama...
Pernahkah dirimu merasa ketika sedang berjauhan jarak lalu saling mengirim sms melalui hape-mu dengan seseorang?
Lalu dengan riangnya kata-kata itu meluncur begitu deras sekenanya... bahkan tak pernah merasa canggung untuk berkata apa pun, termasuk soalan yang dianggap tabu sekalipun... Engkau serasa dekat dengan dirinya, dan begitu pula sebaliknya....
Jarak itu tak lagi jadi halangan untuk bermesraan lewat teknologi.
Tapi, ketika engkau bertatap muka secara langsung, ada sesuatu yang memudar, keceriaan kata-katamu tiba-tiba menghilang, sirna ditepis peradaban yang sedemikian rupa memenjarakanmu... Engkau tidak bisa lagi mengeluarkan kata-katamu sekenanya, hanya terdiam dan goblok!
Aggggggggghhhhh, begitu sedihnya diriku ketika mengetahui aku mengalaminya dengan seseorang yang aku cintai. Sebal, memang menyebalkan itu hape, pikiranku bercampur tak lagi bisa terkontrol aku marrrrrrrraaaaaaaaaaaaaah.....
-----------------------
Dalam keadaan gundah aku secepat mungkin menemui cintaku itu di lain waktu, kami tersemyum renyah ketika kami berdua mengetahui apa yang terjadi sebelumnya. Sejak saat itu aku tak ingin lagi merasa canggung di saat kita berdua berkontak fisik satu sama lain secara langsung. Aku pun bisa belajar banyak walau pun dari hal kecil seperti hape. Well big hug, and also kiss and hug...for sure, (for you all) hehehe
Posted at 09:27 pm by nyikonde
Permalink
|
|
|